“Dasar tidak punya hati! Tidak punya perasaan! Bisa-bisanya mengkianati teman sendiri seh?”
Itu salah satu ungkapan yang sering muncul, sebagai protes kita terhadap perselingkuhan terhadap teman sendiri. Orang yang berani berselingkuh, apalagi berselingkuh dengan pasangan teman sendiri dianggap tidak berperasaan, tidak punya hati, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, benarkah tuduhan itu?

Menarik untuk direnungkan, karena bagi saya justru sebaliknya. Orang yang terjebak dalam perselingkuhan biasanya karena justru bermula dari sisi rasa. Perselingkuhan, sedangkal apapun, pasti dimulai oleh perasaan. Misalnya selingkuh karena tergoda oleh penampilan. Tentu saja kalau soal penampilan, pertama dari pandangan mata, kemudian timbul rasa suka (sebatas suka akan penampilannya). Sekali berarti soal rasa / perasaan. Lalu yang mendalam, pastinya sangat dipengaruhi oleh perasaan. Biasanya bermula dari permasalahan dengan pasangan, yang mungkin terasa buntu dibicarakan. Maka adalah sangat terbuka untuk mencari nasehat atau masukan dari orang lain di luar pasangannya. Jika curhat ke orang yang tepat tidak jadi masalah, yang repot adalah jika curhat kepada lawan jenis (siapapun itu, teman / sahabat / saudara). Jika curhat ini terus berlanjut secara terus menerus sehingga berkembang menjadi suatu kenyamanan, maka kuncinya adalah orang yang diajak curhat tadi. Mengapa?
Awalnya saya bingung juga dengan keadaannya. Bagaimana tidak? Tinggal dalam satu rumah, tetapi punya dapur sendiri-sendiri. Menurut saya, bukankah itu hanya akan membuat pengeluaran semakin besar saja? Bukankah itu juga akan membuat tenaga juga tidak efektif, disamping juga akan dinilai aneh oleh tetangga (termasuk pandangan saya pribadi)? Tetapi begitulah, itulah yang dipilih oleh rekan wanita saya: Memilih punya dapur sendiri, bersebelahan dengan dapur milik mertuanya. Maka bisa disimpulkan juga bahwa untuk urusan makanan, mereka bertanggung jawab sendiri-sendiri. Teman saya memasak untuk suami dan anak-anaknya, sedang mertua perempuannya memasak untuk dirinya sendiri dan suaminya.

Saya masih ingat, beberapa bulan sebelumnya ia terus-terusan mengeluh karena merasa dikritik terus oleh mertuanya soal masakan. Sudah mencoba berbagai resep pun selalu ada yang dirasa kurang oleh mertuanya. Entah katanya kurang matang, terlalu asin, memasak tidak dengan cinta, dan lain sebagainya. Bahkan, teman saya pun sampai mengorbankan selera kesukaannya, demi membuat senang mertua. Tetapi tetap sama saja. Hanya sebentar mendapat pujian, selebihnya seperti biasa. Di samping itu, ia sendiri merasa tidak nyaman. Dan masalah itu ternyata tidak hanya berpengaruh kepada kenyamanan hatinya sendiri, tetapi merambat juga menjadi awal perselisihan dengan suami. Pokoknya repot.
Sore itu saya hendak membersihkan rumah dari barang-barang yang tidak terpakai lagi. Setelah berhasil mengumpulkan beberapa barang dapur yang hanya memenuhi almari di bawah kompor, saya beralih ke atas almari baju di kamar. Nah ini yang membuat nyamuk-nyamuk suka ngumpul di kamar. Ternyata ada kardus yang sudah sangat berdebu. Setelah saya buka, saya agak bingung juga. Ternyata satu kardus besar itu isinya kaset-kaset koleksi saya dari masa sekolah dan kuliah dulu. Mau diapakan ya? Masak mau saya berikan ke Bapak-bapak yang merawat kebun di sebelah rumah juga? Jelas tidak mungkin, karena kasetnya sangat ekslusif, tidak mungkin didengerin oleh dia. Gimana tidak? Isinya saja dentuman lagu-lagu rock klasik, lagu metal, lagu hard rock, hingga ke blackmetal dan sejenisnya. Dari Helloween, Manowar, Rapsody, EdguY, Iron Maiden, Judas Priest, hingga Obituary dan sejenisnya. Ini mah ga cocok dengan telinga orang sunda, sudah usia lanjut lagi. Bisa-bisa membuat jantungan.... J

Akhirnya kumpulan kaset itu hanya saya bersihkan dan saya masukkan ke kardusnya lagi. Bukan karena saking sayangnya, tetapi merasa belum tepat saja harus dihibahkan ke siapa. Tetapi saya jadi tersenyum geli sendiri, karena ingat betapa dulu saya sangat sayang dan bangga dengan koleksi kaset saya itu. Biarpun uang saku pas-pasan, saya lebih memilih makan ala kadarnya, asal punya modal untuk berburu kaset-kaset rock langka tersebut. Mungkin itulah mengapa saya tidak sempat pacaran dulu ya... hehehe. Ga penting banget ya.. Tetapi sungguh luar biasa. Mungkin karena pengorbanan yang saya rasa lumayan besar itu, saya menjadi sangat sayang sekali dengan kaset-kaset itu, Begitu telatennya saya membersihkan pita-pita kaset itu dengan alkohol, begitu rapinya saya tempel lipatan sampul kaset itu dengan isolasi agar tidak mudah robek. Pokoknya berbahagialah kaset-kaset itu... J
Beberapa hari lalu di media ramai diberitakan perselisihan antara seorang anak dengan ibunya, dengan akar perselisihan yang sebenarnya tidak masuk akal bagi kalangan umum. Hanya karena permasalahan sebuah batang pohon, ternyata sampai dibawa ke pengadilan. Tidak masuk akalnya, yang dibawa ke meja hijau adalah ibunya sendiri. Hmm.... Sudah sebegitu dalamnyakah pengaruh materi, hingga mengorbankan kedamaian persaudaraan?

Tetapi, mau dikata apa, rupanya ikatan materi terhadap kehidupan seseorang di jaman sekarang ini memang semakin kuat. Ini didukung juga oleh berubahnya persepsi orang terhadap kebahagiaan. Banyak orang yang menggantungkan kebahagiaan dengan tercapainya pencapaian mendapatkan suatu materi. Semakin maju jaman, rupanya ikatan materi juga semakin kuat. Ini berbeda dengan kehidupan yang saya alami semasa kecil dulu.