JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Kebahagiaan Yang Tidak Dikenal Dunia

AddThis Social Bookmark Button

Saat ayah saya sakit di rumah sakit, selain dikunjungi dan didoakan oleh tetangga, rekan, maupun kami anak-anaknya, ternyata setiap pagi dan sore selalu ada beberapa suster (biarawati) yang datang ke kamar ayah dan sujud berdoa khusus bagi ayah. Sungguh kehadiran dan dukungan dari para suster itu menenangkan dan menguatkan ayah dan kami semua. Dan saat kami tanya, memang seperti itulah kegiatan rutin mereka. Mereka terlihat bahagia melakukan semua itu.

Belum lama ini saya melihat film Santo Fransiskus dan hati saya terharu sekaligus bertanya-tanya. Kok bisa ya seorang manusia melakukan semua itu? Betapa dengan penuh kasih dan tanpa rasa jijik Si Gila Fransiskus ini memeluk dan menciumi luka-luka kusta dari para penderita kusta saat itu. Bagaimana ia dengan penuh kegembiraan melakukannya disaat semua orang justru menjauhi penderita kusta yang dianggap najis jaman itu. Kegembiraan dan kebahagiaan macam apa yang ia dapatkan sehingga di kemudian hari tidak terhitung pengikutnya?

Kegembiraan dan kebahagiaan yang mereka rasakan sepertinya jarang saya jumpai di sekitar saya, bahkan berbeda dengan yang saya angankan. Di jaman seperti ini, bahagia adalah saat kita bisa membeli sebuah rumah baru, mobil baru, HP baru, dan lain sebagainya. Sedih adalah saat tidak bisa mendapatkan keinginan akan semua itu. Itu adalah kebahagiaan yang familiar sekarang ini. Setiap hari kita disuguhi oleh media massa bahwa bahagia adalah saat berhasil mendapatkan popularitas, kekayaan, jabatan, kesuksesan, kekuasaan. Bahagia adalah saat juara dan menang. Meskipun ternyata di kemudian hari terlihat bahwa yang telah mencapainya merasa hidupnya kesepian, tertekan, dan berbeban berat. Tapi kebahagiaan semacam itulah yang hidup di sekitar kita

Bahkan saya sering berpikir, alangkah sia-sianya teman saya belajar sampai bergelar doktor, karena begitu menjadi ahli, yang ia lakukan justru konsentrasi merawat orang-orang jompo di panti jompo. Dari pagi-pagi merawat hingga malam. Di mata saya seperti mengerjakan hal-hal kecil yang seharusnya bisa dikerjakan oleh orang lain, yang tidak berpendidikan tinggi. Dan herannya ia melakukan semua itu dengan suka cita dan senyum bahagia yang tak pernah lepas dari bibirnya. Bahkan jika ada kegiatan yang mengharuskan keluar, ia seperti tidak sabar untuk segera ke panti lagi.

Dan kalau saya cermati baik-baik, banyak tokoh terkenal yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencari kebahagiaan semacam ini, seperti Mahatma Gandhi, Ibu Theresa, Charles de Foucauld, dan lain sebagainya. Dan mereka dikenang hingga kini oleh semua orang, biarpun saya yakin bukan untuk dikenang tujuan hidupnya.

Hanya satu yang mungkin bisa kita pelajari. Mereka mendapatkan kebahagiaan sejati itu dengan melakukan perbuatan-perbuatan kepada orang-orang kecil dan terpinggirkan. Ada perbedaan dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang sekarang. Rata-rata orang mengejar kebahagiaan dengan bergerak ke atas, mereka mengejar kebahagiaan dengan bergerak ke bawah. Dan jika kita renungkan, ada satu tokoh lagi yang mengilhami semua itu, yakni Tuhan Yesus sendiri. Ia selalu mengfokuskan semua perbuatannya untuk orang-orang kecil dan berdosa. Dan disanalah letak kebahagiaan dan sorga berada. Sanggupkah kita?  (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh