JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Dari Abu Kembali Ke Abu

AddThis Social Bookmark Button

Setahun sudah ayah saya berpulang ke sisi Bapa. Banyak kenangan melintas di kepala, saat kami mulai membongkar makamnya, sebelum upacara peletakan batu nisan. Dan rasa sedih pun tidak kuasa hinggap di hati saat saya ikut menutup kembali makam dengan hamburan tanah dan bunga. Sungguh, betapa waktu terasa sangat cepat berlalu, seakan belum lama saya biasa duduk mengobrol saat ada kesempatan mudik. Terima kasih sekaligus maafkan anakmu ini Bapak…..

Satu hal yang membuat saya senang dan bahagia. Seiring dengan pengembangan pembinaan iman di paroki, ternyata desa kami diberi ijin untuk membuat lingkungan / wilayah baru, dan tidak disangka, nama yang dipilih untuk lingkungan baru itu adalah nama baptis dari ayah saya… Entah dengan pertimbangan apa. Sebagai anaknya, satu hal yang saya syukuri dan saya yakini, di balik kekurangan ayah saya, ternyata ada kelebihan dan sumbangsih ayah saya yang dirasakan oleh umat beriman di lingkungan sehingga muncul inisiatif penghormatan tersebut.

Saya pribadi yang merantau jauh, kadang hanya merenung, bisakah saya setidaknya mendekati teladan ayah saya? Rasanya sangat berat. Rasanya belum ada sumbahsih yang bisa saya berikan ke orang lain, bahkan mungkin ke orang terdekat dan diri saya sendiri. Mungkin hanya ego dan ego yang selalu saya perjuangkan hingga kini. Tidak tahulah…

Semoga saya bisa menyadari dan memanfaatkan waktu tersisa yang masih diberi Tuhan hingga saat ini. Semoga dibalik pergulatan hidup sehari-hari yang seakan menguras energy ini, masih disisakan kesadaran setiap malamnya, untuk mengingat, sebenarnya apa tujuan akhir dari semua itu….  

Hari ini, di dahi saya ditorehkan abu sebagai peringatan bahwa kita semua, tidak peduli siapapun kita (entah kaya atau miskin, muda atau tua, sehat atau sakit, merasa bahagia atau sengsara, dll), pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi abu dan tanah, yang dengan mudah akan bercampur dengan lumpur atau lenyap terhempas angin. Tetapi, di balik abu kita nanti, semoga ada kenangan tentang kebaikan yang terpatri dalam hati orang-orang di sekitar kita, dan terutama berkenan pada-Nya.

Yuk, masih ada waktu tersisa entah sampai kapan, untuk mulai kembali membuat goresan indah tentang kebaikan di hidup kita masing-masing, sebelum tanah mengajak bersatu jazad kita….. (By Set, moment Rabu Abu 2017)

 

Add comment


Security code
Refresh