JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter

Suka isi web ini? Tulis di Alexa ya...

Review http://www.jalanbahagia.com/ on alexa.com
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Kumpulan Refleksi

Membaca Apa Yang Mau Saya Mau

AddThis Social Bookmark Button

Sebuah fenomena yang melanda dunia maya akhir-akhir ini. 

Tidak terhitung berapa link tertera di wall facebook milik teman-teman facebook saya. Saya yakin di media sosial selain FB juga begitu. Judul-judul dari link tersebut sangat menarik, kadang provokatif, terlebih saat menjelang pilkada jakarta Februari 2017 kemarin. 

Satu hal menarik perhatian saya, adalah bahwa teman-teman saya cenderung memberikan link yang sekaligus dibumbui status sesuai pemikirannya sendiri-sendiri. Maksud saya, jika sudah cocok dan sealiran dengan tokoh yang dikagumi, maka yang dishare dan ditulis ya hanya yang dirasa menguntungkan dan sependapat. Semua seakan berlomba mewartakan berita yang benar sesuai selera masing-masing. Jika ada yang memberikan koment yang cocok, langsung diamini dan diperkuat. Sebaliknya, jika ada yang tidak sependapat, maka langsung dibalas dengan kalimat-kalimat pertahanan membela mati-matian, dan tidak jarang terjadi adu argumen. Tidak peduli, argumennya masuk akal atau tidak. Terkadang saya membayangkan, ini kalau bertemu langsung, jangan-jangan sudah dilanjutkan dengan perkelahian ya....

Padahal, kalau dipikir-pikir, biarpun dijelaskan sejelas-jelasnya, sangat kecil kemungkinan orang yang tidak setuju dengan pendapat kita akan berubah pikiran. Jadi percuma saja. Dan ini sama saja dengan kita masing-masing bukan? Jika dibalik, kita juga akan susah untuk merubah pendapat dan pikiran kita. Yang sering terjadi kita akan mati-matian membela diri, bahkan ganti menyerang. Apalagi penjelasannya hanya melalui tulisan.

Dan semakin lama, jika kita perhatikan, apa yang muncul di wall facebook kita isinya hanyalah tulisan-tulisan/berita/link/gambar yang cocok dengan pemikiran kita. Dan bisa disimpulkan bukan, sebenarnya banyak dari kita hanya mau membaca apa yang memang mau kita baca (cocok dengan pemikiran kita), lama-lama kita juga hanya mau mendengarkan apa yang memang hanya mau kita dengar. Tidak peduli berita valid itu ditulis dan diucapkan oleh siapa, jika tidak cocok dengan pemikiran kita ya akan kita sanggah dan kita tolak. Sebaliknya, biarpun sebuah berita belum tentu valid dan benar, dan keluar dari sumber yang tidak jelas, asal cocok dengan pemikiran kita, kita langsung dengan mantab mengiyakan dan share ke orang lain.

Padahal hakekat membaca dan mendengarkan adalah untuk memperkaya kita dengan hal-hal baru di luar sana, yang seringnya diluar pemikiran kita. Maka jika begini terus, bagaimana kita akan semakin pintar? Bagaimana kita bisa memahami orang lain? Bahkan, jika dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat, bagaimana mungkin akan tercipta kerukunan dan kemajuan?

 

Kita akan menjadi seperti katak dalam tempurung dan berkoar-koar. Yah begitulah… Marilah kita belajar untuk membaca lagi. Kosongkan ‘gelas pikiran’ kita terlebih dahulu, supaya ada ruang untuk hal baru. Marilah kita belajar mendengarkan lagi, karena mendengarkan itu berarti membiarkan otak dan hati kita mencerna pendapat orang lain, bukan mencerna pendapat kita sendiri bukan?

(By Set Feb 2017)

Add comment


Security code
Refresh