JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Suka isi web ini? Tulis di Alexa ya...

Review http://www.jalanbahagia.com/ on alexa.com
Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Nutrisi Batin

Nutrisi Batin Harian adalah ulasan sederhana tentang bacaan kitab suci harian yang berdasarkan kalender liturgi katolik. Dengan membaca dan  merenungkan secara rutin sajian ini, minimal kita sudah secara tidak langsung membaca bacaan kitab suci setiap hari. Harapannya, semoga bisa menjadi nutrisi bagi batin kita yang memang harus kita siram setiap hari. Tuhan Memberkati kita semua...

Saatnya Untuk Menyangkal Diri

Saatnya Untuk Menyangkal Diri

 

"Setiap orang yang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.”

(Luk 9 : 23)

 

Suatu saat saya beruntung bisa mendengarkan sharing dari seorang Bapa Uskup. Beliau bercerita tentang suka dukanya yang ia alami, mulai dari masa kecil hingga dewasa, termasuk lika-likunya selama dalam masa pendidikan calon imam. Yang menarik perhatian saya adalah saat beliau menceritakan, betapa dulu di asrama saat-saat tertentu yang sudah dijadwalkan, mereka semua yang tinggal di asrama keluar dari kamar, kemudian bersimpuh di depan pintu masing-masing, sambil membawa cambuk. Untuk apakah cambuk itu?

 

Ternyata cambuk yang sudah dimodifikasi (dengan diberi pemberat atau apapun itu, yang dianggap pas oleh pemiliknya untuk mendatangkan ‘kesakitan’ saat dilecutkan ke kulit tubuh) itu digunakan untuk mencambuki punggung masing-masing. Tentu saja dengan kaos / bajunya sudah dilepas. Dan bisa dibayangkan bukan, apa yang akan dirasakan? Kesakitan.... Itu yang jelas. Tetapi apa tujuan dari rasa sakit itu sebenarnya?

Who Can Follow Him?

" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

(Mat 19:21)

 

Saat membaca kutipan ini, dalam hati saya sanksi, masih adakah orang di jaman sekarang ini yang mau mengikuti saran itu? Jika mau sempurna, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian ikutlah Aku.... Berat sekali untuk dilaksanakan. Tidak membunuh, menghormati orang tua, tidak menyembah berhala, tidak bersaksi dusta, dll, ternyata belum cukup. Tuhan masih menyarankan itu: Lepas semua harta bendamu! Tinggalkan semua materi yang kau kumpulkan detik demi detik selama ini! Ayo ikut dengan-Ku...! Jika begitu adanya, masih adakah orang yang sempurna saat ini?

 

Jangankan menjual seluruh harta untuk kaum papa, kadang memberi rb 1000,- untuk pengemis di pinggir jalan yang kita lalui saja berat hati. Entah dengan alasan takut ga mendidik, atau pura-pura tidak melihat, dan segudang alasan lainnya. Belum lagi kalau ingat sulitnya saat tanggal tua... J

Rapuh

Rapuh

 

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

(Mzm  34 : 18)

 

Sudah jam WIB 14.00 siang… Wah, pasti dah sepi kuburannya. Segera kuganti sragam SMA-ku dengan kaos butut. Dengan menenteng gitar kebanggaanku (bukan karena bagus, tetapi karena harus penuh perjuangan untuk mendapatkannya, menabung setahun penuh dari sisa-sisa rupiah bulananku). Kususuri jalan setapak di desa tempat kostku itu. Sengaja kutundukkan kepala, berharap terhindar dari teriknya panas matahari di ubun-ubun. Ahhh… Hari ini sendirian. Teman kostku lebih memilih tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Ya ga papalah, malah enak. Sekali-sekali bebas berdiam diri sampai sore.

Mengapa Harus Memberi

Mengapa Harus Memberi

“……Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

(Kis 20:35)

 Dalam perjalanan ke kota Bogor dengan angkot, di tengah-tengah himpitan penuhnya penumpang dan cuaca panas, saya masih dikejutkan dengan suatu fakta. Di pertigaan jalan depan terminal Baranang Siang, naik seorang bapak-bapak yang berbaju kumal dan terlihat letih. Karena belakang sudah tidak bisa dijejali pantat lagi, dia akhirnya duduk di depan, mepet dengan sopir. Lalu sejenak kemudian dia mengobrol dengan sopir, dan ketahuan bahwa dia adalah seorang pengemis. “Lier oii…. Dah jam segini baru dapet 200 ribu…..” Katanya dengan suara yang tidak ditahan sehingga semua penumpang pun mendengar. Saya pun terhenyak…. “Hahhhh….. 200 ribu?” Saya pun menengok jam tangan penumpang di sebelah saya. Waduh, baru jam 2 siang sudah mendapat 200 ribu…. Alamak….

 

Maka dalam perjalanan selanjutnya, benak saya hanya dipenuhi kehidupan bapak tadi. Cukup bermodalkan tangan tengadah dan suara / wajah memelas, dan sedikit daya tahan menahan panas dan debu jalanan, dia bisa mengumpulkan rupiah segitu banyaknya. Jika diandaikan selama sebulan dia kerja hanya 20 hari, maka penghasilannya 4 juta rupiah minimal.

Tak Terbatas Untuk Kita

Tak Terbatas Untuk Kita

 

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

(Luk 17 : 4)

  

“Lihat saja! Sampai mati pun tak akan kumaafkan dia….”

Mungkin kalimat ini pernah mampir ke telinga kita. Atau bahkan sempat muncul juga dalam hati kita. Karena suatu kejadian atau kesalahan, hubungan kita menjadi renggang. Entah dengan rekan kerja, saudara, atau orang terdekat kita. Sebenarnya siapa yang rugi kalau demikian?